30 September 2013 | dibaca 1.164 kali

The Future "Us" is in the Making Today

The Future "Us" is in the Making Today

Sebagai jebolan industri perbankan saya masih terhubung dengan beberapa teman yang bekerja disana. Melalui mereka saya memperoleh kabar terbaru sekaligus kecenderungan yang terjadi belakangan ini terutama terkait seputar ketenagakerjaan. Sebagai catatan, dunia perbankan adalah salah satu industri terpenting bagi perkembangan sebuah negara karena sifatnya sebagai agen pemberdaya ekonomi. Industri perbankan bisa jadi juga merupakan penyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi terbesar di Indonesia. Nah, salah satu fakta yang dirasakan oleh banyak bank saat ini adalah sulitnya mencari tenaga profesional untuk mengisi beragam jenis pekerjaan yang tersedia. Sungguh ironis jika dibandingkan dengan jumlah pengangguran yang mencapai 5% dari total angkatan kerja atau sekitar 7 juta orang di Indonesia. Kesulitan lain yang tidak kalah penting adalah repotnya mempertahankan tenaga kerja di bank yang bersangkutan. Kalau tidak percaya, silahkan tanya kenalan anda di dunia perbankan. Saya ada teman yang sudah berpindah kerja di 3 bank berbeda dalam waktu 5 tahun terakhir.

Awalnya saya pikir keadaan ini didominasi oleh dunia perbankan, ternyata salah besar. Hampir semua industri merasakan hal sama dengan intensitas berbeda. Cerita-cerita serupa juga terjadi pada industri telekomunikasi, asuransi, FMCGs, logistik, kesehatan, pariwisata perhotelan bahkan berbagai sektor yang digeluti teman-teman UKM (Usaha Kecil Menengah). Saat menulis kolom ini, istri sayapun berseloroh bahwa hal serupa juga dirasakan banyak ibu-ibu saat mencari asisten domestik. Bagaimana dengan anda?

Knowing it can be done is half the battle. Belakangan saya memperoleh penjelasan menarik saat membaca kajian BCG (Boston Consulting Group) tentang postur dan prediksi dunia ketenagakerjaan Indonesia. Banyak fakta-fakta penting yang wajib diketahui pemilik usaha, professional atau pemerhati dunia ketenagakerjaan. Dokumen ini bisa diunduh dari website mereka dengan judul “Growing Pains, Lasting Advantage.” Silahkan manfaatkan mbah Google.

It’s tough to think beyond conditioning. Dalam beberapa hal, dokumen ini menakutkan karena memberi gambaran prediktif tentang hal-hal yang bakal terjadi jika kita, bangsa Indonesia, tidak melakukan terobosan-terobosan. Disebutkan gap 13% pada level manajemen madya yaitu kelompok manajemen yang punya bos sekaligus punya anak-anak buah. Artinya jumlah permintaan melebihi jumlah penawaran. Artinya juga dunia pendidikan tidak cukup menghasilkan tenaga kerja terlatih dan industri tidak berhasil mencetak pemimpin2 baru.

Never sacrifice long-term with short-term. Seringkali respon perusahaan dalam menghadapi kekurangan profesional adalah dengan membajak dari organisasi lain. Cara ini memang  mudah, cepat dan menyelesaikan problem jangka pendek. Namun kekisruhan terjadi saat semua organisasi melakukan hal yang sama. Tidak heran biaya tenaga kerja level tertentu semakin mahal. Tidak aneh jika peningkatan remunerasi tidak dibarengi peningkatan kualitas manajerial. Sehingga dalam jangka panjang semua pihak kalah.

Take ownership of our problems today for better tomorrow! Laporan yang sama menyebut angka 13% saat ini akan menjelma jadi 56% pada tahun 2020 jika tidak ada perubahan tata kelola tenaga kerja pada organisasi. Apa yang bakal terjadi? Mudah saja - saat kebutuhan sudah tidak bisa dipenuhi dari sumber dalam negeri maka peluang terbuka untuk profesional mancanegara. Jika tidak hati-hati maka bisa jadi kita akan lebih sering bertemu manajer madya di Indonesia bernama belakang Kumar, John Smith atau de Leon. Kenapa tidak? Mereka sanggup bekerja di Indonesia dengan tingkat gaji sama, lebih fasih berbahasa Inggris atau bahasa lain dan mampu berkiprah lebih dari rata-rata manajer lokal.

Apa yang sudah (dan akan) terjadi bukan sekedar problem organisasi, ini problem industri – problem dunia pendidikan, bahkan problem bangsa. Ternyata memiliki populasi besar belum tentu kabar baik terlebih jika sistem pendidikan masih belum menunjang. Apakah masa depan akan membawa kebaikan pada bangsa ini atau sebaliknya tergantung pada langkah-langkah yang kita ambil secara kolektif hari ini. Sekarang. The future is not an inheritance, it’s an opportunity and an obligation – Bill Clinton.

René  Suhardono
Penulis & Pembicara Publik
Terobsesi dengan People, Passion & Performance

Sedang menekuni @ImpactFactoryID | @CommaID | @SaweranIDE | @KelasInspirasi | @FestivalGIM | #Happy5

Colek saya di twitter: @ReneCC
Photo: instagram #sunrise by @hoppypolli


perusahaan favorit
PARTNER
kuningan city Binus Career BNCC Vokas UI Art Hotel BART BINUS Center Biznet Dokter ID Karier Binus University Art Hotel Ungu International SOS Gandaria city Universitas Negeri Jakarta Universitas Indonesia
MEDIA PARTNER
Gramedia Majalah Koran Sindo Kompas TV O channel Kompas.com Belum Tau.com Cosmopolitan FM Trax Traxmagazine Cosmo Girl Ok Zone Kontan Kaskus Binus TV SWA Top Career Intisari Bisnis Indonesia Tribun News Provoke KTV Student Job Smart FM Info Puri Tangerang Raya Info Kebayoran Halo Jepang UMN Radio KulCart Sannews MIVO Motion FM ERA FM Malesbanget