30 September 2013 | dibaca 908 kali

KEMEWAHAN SINERGI

KEMEWAHAN SINERGI

Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD          
TEAM ALIGNMENT & SYNERGY TRAINING

 
Begitu banyak organisasi yang kita temui mencantumkan “teamwork” sebagai salah satu nilai perusahaan. Apakah organisasi Anda pun begitu? Ya, biasanya kita merasa risih bila mengetahui kelompok A tidak cocok dengan kelompok B. Meski nilai-nilai teamwork digaungkan terus, dalam dinamika organisasi, kita bisa melihat bahwa perseteruan, pembeda-bedaan begitu sulit dihindari. Kita tahu kelompok “back office” kerap dipandang kelas dua, dibanding jajaran sales yang berkontribusi langsung pada penghasilan perusahaan. Ada juga kelompok yang merasa lebih hebat karena mencetak laba yang lebih besar dari kelompok lain. Ada divisi yang merasa lebih bergengsi karena bertemu dengan klien korporasi dan bukan “bermain” di pasar becek. Perbedaan peran yang sebetulnya natural, terkadang malah membuat orang dalam organisasi menumbuhkan dinding virtual dan mulai ‘tidak berbicara’ satu sama lain. Ini tidak aneh. Perusahaan dengan reputasi fortune 500 pun mengalami hal serupa. Salah satu pimpinan perusahaannya mengatakan: “As long as humans are running the business – not robots, there’s going to be human relationship problems running in the business” .

Sinergi sebetulnya justru bersumber dari keberbedaan ‘nature’ manusia, kompetensi, keahlian, karakter, generasi, ego, kebiasaan talenta, kekurangan dan kelebihannya. Namun, entah mengapa, kita kerap merasakan sendiri betapa sinergi seolah menjadi semakin jauh dari kehidupan organisasi. Di perusahaan yang sedang berkembang pesat, dengan ukuran kinerja divisi yang ketat, tidak adanya sinergi ini kemudian menggejala. Orang semakin menerima saja, bila ada departemen yang berseteru di media massa, atau bahkan secara fisik. Bukankah kita juga sering menyaksikan proyek yang tidak selesai, bahkan dibongkar pasang, tidak disupport, dan terkesan tidak adanya koordinasi? Bagaimana mungkin kita mengharapkan sinergi bila berkoordinasi saja sudah sulit?

Tidak adanya sinergi jelas akan berakibat fatal, mulai dari produktivitas yang rendah, kordinasi yang buruk, individu tidak happy, saling menyalahkan. Hal yang sering kita lupakan adalah bahwa sinergi tidak sama dengan sekedar menjumlahkan semua kinerjanya satu per satu. Kelompok yang bersinergi akan terasa melahirkan pemikiran baru, tenaga baru yang hasilnya tidak sama dengan sekedar penjumlahan enerji masing masing individu atau bagian. Inilah yang namanya sinergi. Pelatihan yang memancing emosi dan mendorong keberanian bisa jadi memang membawa keakraban, namun bila tidak menyentuh esensi untuk bersinergi, seringkali tidak berhasil juga meningkatkan sinergi. Sangat disayangkan bila ada organisasi yang menomorduakan penggarapan sinergi, karena berpikir bahwa sinergi bisa datang dengan sendirinya. Padahal, jelas sinergi tidak akan tumbuh bila didiamkan. Sikap tinggal diam, sungguh sudah bukan tren lagi di masa sekarang.

Tujuan bersama

Bayangkan sebuah misi penyelamatan terhadap seseorang yang berada di tengah laut. Para penyelamat yang berada di helikopter, tentunya mempunyai pandangan yang berbeda dengan penyelamat yang berada di laut. Mereka pasti bertukar hasil pemandangan mereka, untuk menambah informasi. Pertukaran informasi pasti dilakukan dengan intensif, demi tindakan penyelamatan. Dalam kondisi dengan urgensi yang tidak terlihat, biasanya perbedaan persepsi ini dibiarkan. Seseorang melihat dengan kacamata marketing, sementara yang lain melihat dengan kacamata finance. Terkadang kita lupa bahwa yang menjadi misi adalah kebutuhan pelanggan dipenuhi, pelanggan puas, sehingga bisnis bisa terus bertumbuh.

Pentingnya kejelasan visi, misi dan sasaran bisnis, jelas diketahui oleh semua perusahaan. Sayangnya, visi yang dibuat kerap terlihat abstrak, jauh dari kegiatan sehari-hari, sehingga individu tidak bisa merasakan perlunya sinergi. Individu yang tidak mengenal misi perusahaan akan terlihat tidak saling berbagi informasi, mengembangkan mentalitas tidak mau dipersalahkan, bahkan semangat ‘memikirkan kepentingan diri sendiri’ tetap dinomorsatukan. Bisa kita bayangkan kalau para menteri di pemerintahan tidak sibuk sendiri-sendiri, tetapi  lebih mendekatkan kepala untuk melahirkan strategi negara yang kreatif, kita pasti akan menikmati pembaharuan yang ‘beda’. Dalam organisasi, kerugian signifikan akan kita alami bila antar bagian tidak merasakan partnership tapi justru permusuhan. Pertumbuhan perusahaan pasti tidak terjadi bila di internal perusahaan keputusan tepat waktu tidak diambil karena diwarnai penolakan terus-menerus dari bagian lain.

Berkontribusi dan Berdiskusi Produktif

“The A team” hanya bisa mencapai puncak prestasinya bila setiap anggota kelompok menuju satu sasaran dan menyadari akan peran dan kontribusinya. Tidak ada pemain basket yang menang semata karena salah satu anggota. Itu pasti tim. Dan kontribusinya pun rata. Dalam tim yang bersinergi semua anggota tim berkontribusi, sehingga bila ada ide brilian yang muncul dan terimplementasi dengan baik, biasanya anggota tim sudah tidak bisa mengenali siapa yang paling berhasa menemukan ide itu, karena sudah dikeroyok bersama-sama. Karena semua berkontribusi, semua tahu sama tahu, dan memusatkan perhatian pada hasil. Dalam seleksi dan pelatihan, kita perlu menekankan bahwa sinergi harus dicapai melalui kontribusi setiap orang. Sebagai anggota tim, kita pun perlu juga belajar menurut. Menjadi ‘follower’ pun adalah  eksistensi tersendiri.

Kita juga perlu mewaspadai dan senantiasa membangun suasana diskusi positif untuk menumbuhkan sinergi. Seorang teman yang mengabarkan beberapa ‘brutal facts’ pada atasannya, seketika terdiam karena atasannya hanya menanggapi dengan pernyataan bahwa ia terlalu pesimis. Terkadang, walaupun mempunyai visi yang sama, individu, apalagi atasan dalam perusahaan, jelas perlu hati-hati dengan komentar dan celetukan yang bisa memadamkan api sinergi. Kita memang perlu mengingatkan pada setiap anggota kelompok, agar dalam debat dan beda pendapat, sikap kolaboratif perlu dipertahankan. Kita jelas perlu selalu mendapatkan informasi lain dari pihak lain sebelum mengambil keputusan. Bahkan kebiasaan ‘brainstorming’ harus disuburkan, di mana opini, ide-ide, dan pengalaman tiap-tiap orang dihargai sebagai aset perusahaan yang berharga. Perbedaan perlu di’welcome’ sebagai masukan dan informasi, sambil kitapun mawas diri mengenai perbedaan yang kita bawa yang mungkin dapat membawa ketidakharmonisan tim. Seperti halnya hubungan interpersonal antara 2 orang, sinergi pun perlu dilihat sebagai sesuatu yang harus dijaga terus. Bukan sekali jadi, apalagi “hit and run”.


perusahaan favorit
PARTNER
kuningan city Binus Career BNCC Vokas UI Art Hotel BART BINUS Center Biznet Dokter ID Karier Binus University Art Hotel Ungu International SOS Gandaria city Universitas Negeri Jakarta Universitas Indonesia
MEDIA PARTNER
Gramedia Majalah Koran Sindo Kompas TV O channel Kompas.com Belum Tau.com Cosmopolitan FM Trax Traxmagazine Cosmo Girl Ok Zone Kontan Kaskus Binus TV SWA Top Career Intisari Bisnis Indonesia Tribun News Provoke KTV Student Job Smart FM Info Puri Tangerang Raya Info Kebayoran Halo Jepang UMN Radio KulCart Sannews MIVO Motion FM ERA FM Malesbanget