Keseimbangan Bekerja dan Aktif di Media Sosial

Kamis, 8 Juni 2017 | 00:00 WIB
Keseimbangan Bekerja dan Aktif di Media Sosial

Apakah anda pengguna social media (sosmed)? berapa banyak sosmed yang anda punya? Saya yakin sebagian besar kita yang hidup di era digital saat ini merupakan pengguna sosmed lebih dari satu aplikasi. Jika anda sangat aktif di sosmed, anda tidak sendiri dan membuat Indonesia termasuk negara yang memiliki pengguna sosmed terbesar di dunia. Penggunaan sosmed yang sangat tinggi ini bisa menjadi suatu potensi pembangunan bangsa jika digunakan secara bijak. Sayangnya, jika penggunaannya hanya bertujuan untuk menyampaikan informasi yang tidak benar, hal ini juga dapat menjadi potensi perselisihan di masayarakat. Kalau saya tanya kepada beberapa teman pengguna sosmed, apa yang membuat dia sangat aktif di sosmed, jawabannya sederhana, yakni sebagai simbol eksistensi diri, mendapatkan banyak pengikut, yang yang dipost disukai banyak orang, dan “ikut-ikutan” Menyukai postingan orang lain yang telah banyak pengikutnya, lagi-lagi agar dibilang eksis . Bagaimana dengan anda?

 

Berbicara masalah eksistensi diri sebenarnya tidak ada yang salah, karena hal tersebut merupakan salah satu tujuan orang bekerja menurut buku career skill (Plate & Patton, 1991) Perlu untuk digarisbawahi adalah eksistensi dalam hal ingin dikenal dan bermanfaat kepada orang banyak, jangan sampai dimanfaatkan oleh orang lain sehingga melahirkan sikap tidak profesional. Sebagai contoh, anda adalah seorang pimpinan di suatu Perusahaan yang menandatangani tata tertib bekerja sebagai aturan main yang berlaku di Perusahaan. Di dalam aturan tersebut terdapat aturan terkait waktu kerja dan larangan merokok pada area produksi kimia. Seluruh pekerja di Perusahaan tersebut sangat mengenal anda karena mengayomi dan memberikan tambahan kesejahteraan agar selalu eksis dan terlihat bersahaja di mata pekerja. Suatu ketika anda mendapati salah satu pekerja merokok di area produksi kimia, dan beberapa pekerja datang dan pulang tidak sesuai dengan waktu kerja yang ditetapkan, alasannya sederhana, para pekerja sudah mengenal eksistensi anda sebagai orang yang bersahaja. Dalam hal ini, apa yang anda lakukan?

 

Memaafkan pelanggaran tersebut dan tetap terlihat eksis sebagai pimpinan yang bersahaja sangat mungkin dilakukan dan tidak ada resiko untuk diri pribadi. Namun bagaimana resiko jangka panjang bagi kelangsungan perusahaan?. Coba anda bayangkan pembiaran merokok ini terjadi, artinya akan banyak orang melakukan hal yang sama, jika puntung rokok tadi terjatuh pada bahan kimia yang mudah terbakar, apakah yang terjadi pada kantor tersebut? Lalu ketika melakukan pembiaran terhadap waktu kerja, hal ini juga menjadi preseden bagi pekerja lain. Semakin banyak pekerja yang mengikuti hal tersebut, yang berarti semakin tidak produktif perusahaan anda. Berapa banyak kerugian yang timbul jika anda tidak berani TEGAS karena sebatas menjaga EKSISTENSI diri saat ini?

 

Untuk menjadi tegas memang tidak mudah dan tidak semua orang dapat melakukan hal tersebut. tegas itu tidak berarti selalu memiliki konotasi negatif dalam kasus ini. Ketika melakukan hal tersebut, anda paling tidak memiliki sudut pandang jangka panjang yang mempu melihat potensi yang terjadi dikemudian hari, serta menempatkan kepentingan yang lebih besar dibandingkan ego pribadi. Mohon untuk tidak membalik logika pemikiran anda menjadi mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang banyak.

 

@OkaFitrio

Referensikan teman kamu