Mempersiapkan Diri ke Dunia Kerja untuk Mahasiswa

Jumat, 14 Juli 2017 | 00:00 WIB
Mempersiapkan Diri ke Dunia Kerja untuk Mahasiswa

Dalam setiap kuliah kepada mahasiswa dengan tema mempersiapkan diri memasuki dunia kerja selalu muncul 2 pertanyaan yang sebenarnya substansinya sama.

Bagaimana cara mengatur waktu dengan disiplin? Bagaimana menghindari pengaruh lingkungan yang membuat kita tidak disiplin mengelola waktu?

Coba perhatikan kehidupan mahasiswa. Untuk apa waktu yang paling banyak dihabiskan? Mahasiswa yang mengambil 20 SKS mata kuliah masih mempunyai sekitar 20 jam waktu tersisa, bila asumsinya waktu efektif adalah 40 jam seminggu.

Dengan asumsi itu artinya pagi sebelum jam 8 dan sore hingga malam di atas jam 5 tidak dihitung sebagai waktu efektif. Juga akhir pekan, belum ditambahkan.

Katakanlah waktu efektifnya adalah 40 jam seminggu seperti orang bekerja. Lalu bagaimana sisa waktu 20 jam lagi dihabiskan? Mahasiswa pembaca tulisan ini bisa menghitung ulang.

Dugaannya, sebagian besar waktu itu habis dipakai untuk nongkrong, ngobrol, chatting, atau main game. Sangat sedikit mahasiswa yang mengisi waktu di sela kuliahnya dengan membaca, berdiskusi, berlatih bahasa Inggris, atau menulis.

Ketika saya ingatkan tentang rentang skill yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja, termasuk di dalamnya kemampuan bahasa Inggris, hampir semua mahasiswa terpana.

Bahkan mahasiswa yang sudah kuliah separo jalan di semester 6 atau 7 masih belum yakin soal skill yang sudah mereka miliki. Bahasa Inggris mereka masih tergagap-gagap. Kemudian mereka panik. Selama ini aku ngapain aja? Tapi kasus ini jarang dijumpai pada mahasiswa yang memiliki hobi membaca

Lalu mereka sadar betapa banyak waktu telah terbuang. Aku selama ini sudah menyia-nyiakan waktu. Tapi bagaimana cara agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?

Dalam usaha memikirkan pengaturan waktu dengan disiplin itu mereka sadar bahwa pengaruh teman membuat mereka sulit disiplin. Ajakan untuk nongkrong dan ngobrol begitu sulit dihindari. Bagaimana menghindarinya? 

Yah mungkin tidak perlu dihindari, mengingat banyak orang yang sukses menjadi sukses bukan karena keterampilan, tetapi memiliki jaringan pertemanan yang luas. Membangun kedekatan dengan banyak orang bisa bermanfaat di kemudian hari.

Mahasiswa banyak menyia-nyiakan waktu karena memang tidak pernah merencanakan untuk mengisi waktunya. Agenda mereka selain kuliah selalu kosong dan menganggap waktu di luar kuliah adalah waktu bebas. Tidak ada yang salah dengan waktu kosong dan bersantai, hanya problemanya, semakin dewasa seseorang semakin banyak tanggung jawabnya, makin sedikit waktunya. Semua orang berhak bersantai, namun menjaga keseimbangan bersantai dan meningkatkan keterampilan serta jaringan teman (network) juga harus diperhatikan.

Tapi bagaimana menghindari godaan dari teman-teman? Kalau tidak bergabung nanti dianggap tidak solider dan bisa dikucilkan.

Perhatikan bahwa hampir setiap mahasiswa mengeluh seperti itu. Saya tidak disiplin karena pengaruh teman. Kalau semua mahasiswa yang tidak disiplin mengaku akibat pengaruh teman, lantas siapa sebenarnya yang mempengaruhi?

Menjaga keseimbangan antara bersantai, meningkatkan keterampilan dan membangun network bukanlah hal yang mudah. Tapi perhatikan, saat masuk dunia kerja masalah-masalah itu juga akan tetap ada. Ada baiknya melatih diri menjaga keseimbangan.

Untuk melatih keseimbangan, jujur dengan diri adalah yang tersulit. Jujur menerima bahwa kebutuhan untuk bersosialisasi dan bersantai besar, sehingga mengatu agar keterampilan mendapatkan porsi yang "pas" tapi tidak keteteran pada bidang lain. Semoga berhasil

Tim KompasKarier

 

Referensikan teman kamu